Jakarta, Amadanews – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meminta lebih dari 30 ribu pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di seluruh Indonesia untuk terlibat dalam proses verifikasi lapangan terhadap 11 juta peserta BPJS Kesehatan segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) yang dinonaktifkan atau dialihkan status kepesertaannya.
“Kami akan melibatkan pendamping-pendamping kami yang ada 30 ribu lebih di seluruh Indonesia untuk membantu ground check, melihat kondisi setiap penerima manfaat, 11 juta tersebut,” ujar Gus Ipul di Kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, verifikasi lapangan diperlukan untuk memastikan kondisi objektif para penerima manfaat yang terdampak penonaktifan. Langkah ini merupakan bagian dari pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), agar bantuan pemerintah lebih tepat sasaran.
Gus Ipul menegaskan, penonaktifan tersebut tidak mengurangi jumlah penerima bantuan secara keseluruhan. Pemerintah melakukan pengalihan kepesertaan PBI-JK dari kelompok masyarakat yang dinilai mampu di desil 6–10 DTSEN kepada kelompok tidak mampu di desil 1–5, berdasarkan usulan masyarakat dan pemerintah daerah.
Ia menjelaskan, proses pengalihan ini bukan kebijakan baru dan telah berjalan bertahap sejak Mei 2025. Pemerintah memastikan masyarakat yang masih membutuhkan layanan kesehatan tetap dapat mengakses fasilitas medis melalui mekanisme reaktivasi cepat sesuai ketentuan.
Khusus bagi pasien dengan penyakit katastropik atau kronis, Kemensos telah melakukan reaktivasi otomatis terhadap 106 ribu peserta PBI-JK yang sebelumnya sempat dinonaktifkan akibat perubahan data. “Yang pertama kita berikan reaktivasi otomatis adalah 106 ribu pasien yang memiliki penyakit katastropik. Sekarang ini sudah langsung otomatis reaktivasinya,” kata Gus Ipul.
Selain mengerahkan pendamping PKH, Kemensos juga membuka ruang partisipasi publik dalam proses pemutakhiran data. Masyarakat dapat menyampaikan usulan maupun sanggahan melalui aplikasi Cek Bansos, call center, dan WhatsApp Center Kemensos.
“Kami bekerja sekuat tenaga, tetapi hari-hari ini kita memerlukan bantuan dari masyarakat luas untuk ikut usul, ikut sanggah, supaya data kita makin akurat. Koreksi dan sanggahan dari masyarakat itu sangat penting buat kami,” ujarnya. (Red).












