Jakarta, Amadanews.com — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memimpin Sidang Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) ke-1 Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (3/3/2026). Sidang ini digelar untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global, khususnya akibat konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Dewan Energi Nasional (DEN), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu sekitar 20,1 juta barel per hari pasokan minyak dunia.
Indonesia sendiri masih bergantung pada jalur tersebut untuk sekitar 19% kebutuhan minyak mentah, setara dengan 25,36 juta barel. Kondisi ini dinilai menimbulkan risiko serius terhadap keberlanjutan pasokan energi nasional, sehingga pemerintah menekankan pentingnya langkah mitigasi dan diversifikasi sumber energi.
“Sebagai langkah antisipasi menghadapi risiko penutupan Selat Hormuz, pemerintah sepakat mengalihkan sebagian impor minyak mentah ke negara lain, termasuk Amerika Serikat. Untuk kebutuhan LPG nasional yang mencapai 7,3–7,8 juta ton per tahun, pasokan juga diarahkan lebih terdiversifikasi. Strategi ini menjadi bagian dari upaya penguatan ketahanan energi”, ujarnya.
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan agar setiap risiko dihitung secara cermat dan memastikan ketersediaan BBM serta LPG dalam negeri tetap aman tanpa terjadi kelangkaan. “Seluruh keputusan ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian global,” tegas Menteri Bahlil.
Sidang DEN turut dihadiri sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara, antara lain, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, dan Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Luky Alfirman serta delapan Anggota Dewan Energi Nasional. (R).












