Jilid 2: JKA, Irwandi Yusuf, dan Pikiran yang Tak Pernah Dipenjara
Oleh: Reza Aulia, S.T,. M.T
Di sebuah ruang sempit di Bolivia tahun 1967, seorang revolusioner Amerika Latin bernama Che Guevara berdiri dalam kondisi kalah. Ia tertangkap, terasing dari pasukannya, dan tinggal menunggu eksekusi. Namun sebelum peluru menghentikan hidupnya, lahirlah satu kalimat yang kemudian menjadi simbol tentang gagasan yang tak pernah benar-benar mati: “Kau hanya bisa membunuh tubuhku, bukan pikiranku.”
Sejarah kemudian membuktikan, tubuh Che memang tumbang di Bolivia. Tetapi pikirannya terus hidup melintasi generasi, negara, dan zaman.
Aceh mungkin tidak sedang berbicara tentang revolusi bersenjata. Namun dalam konteks yang berbeda, ada jejak pemikiran yang meninggalkan warisan kuat dalam kehidupan rakyat: Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Program yang lahir pada masa kepemimpinan Irwandi Yusuf itu bukan sekadar kebijakan administratif. Ia adalah gagasan tentang kehadiran negara di tengah rakyat kecil. Tentang bagaimana masyarakat miskin tidak lagi takut datang ke rumah sakit karena biaya. Tentang keyakinan bahwa kesehatan bukan hak orang mampu saja, tetapi hak semua warga Aceh.
Hari ini, bertahun-tahun setelah kekuasaan berganti dan badai politik berlalu, JKA justru berada di persimpangan yang paling sulit. Beban pembiayaan meningkat, rumah sakit mengeluh soal tunggakan, kemampuan fiskal daerah melemah, sementara kebutuhan pelayanan kesehatan terus bertambah dari tahun ke tahun.
Ironisnya, di tengah situasi itu, yang tetap bertahan bukan hanya programnya, tetapi juga cara berpikir yang melahirkannya. Karena pada akhirnya, JKA bukan sekadar kartu berobat. Ia telah berubah menjadi kesadaran kolektif masyarakat Aceh bahwa layanan kesehatan adalah hak dasar yang wajib dijaga pemerintah, siapa pun pemimpinnya.
Inilah yang membuat JKA berbeda dengan banyak program populis lain yang hilang bersama pergantian kekuasaan. JKA terlanjur hidup dalam pikiran rakyat. Dan di titik inilah, nama Irwandi Yusuf kembali relevan untuk dibicarakan. Banyak orang boleh berbeda pandangan politik dengannya. Sejarah politiknya juga penuh kontroversi dan dinamika. Tetapi sulit membantah bahwa salah satu warisan paling nyata yang ia tinggalkan adalah keberanian menghadirkan sistem kesehatan yang pada zamannya dianggap terlalu ambisius.
Kini, mempertahankan JKA jauh lebih sulit daripada saat melahirkannya dahulu.
Pemerintah Aceh hari ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Efisiensi anggaran menjadi tekanan tahunan. Dana transfer pusat tidak selalu stabil. Sementara biaya kesehatan terus melonjak akibat inflasi medis, penyakit kronis, hingga peningkatan jumlah peserta layanan.












