Ketika Buku dan Pulpen Merenggut Nyawa

“Ketika Buku dan Pulpen Merenggut Nyawa” 

Pimpinan Redaksi: Agusman, S.E.,M.M.,CPS.,CPMM.,CTEM.,CLTQT.,CAIT.

Tragedi yang menimpa YBR, bocah 10 tahun di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, adalah luka yang menampar nurani bangsa. Seorang anak kecil yang seharusnya menikmati masa belajar dan bermain, justru memilih mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi keluarga yang tak sanggup memenuhi kebutuhan sekolah sederhana: buku dan pulpen.

Ironi, ini semakin menyakitkan ketika fakta menunjukkan bahwa YBR bersekolah di SD Negeri, namun tetap dibebani biaya pendidikan hingga Rp1,2 juta per tahun. Lebih memilukan lagi, keluarga korban tidak pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah akibat carut-marut administrasi kependudukan yang dibiarkan berlarut-larut selama bertahun-tahun. Bukankah ini bukti nyata betapa rapuhnya sistem perlindungan sosial kita?

Pemerintah yang selalu menggaungkan jargon “pendidikan gratis” dan “perlindungan sosial inklusif” seakan gagal hadir di titik paling mendasar: menjamin anak miskin di pelosok tetap bisa bersekolah tanpa rasa tertekan. Ketika birokrasi lebih kuat daripada empati, maka korban sesungguhnya adalah rakyat kecil yang kehilangan hak hidup layak.

Kematian YBR bukan sekadar tragedi personal, melainkan alarm keras bagi negara. Ia menyingkap betapa lemahnya kepekaan institusi sekolah, betapa tumpulnya kebijakan sosial, dan betapa jauhnya pemerintah dari realitas rakyat di daerah terpencil.

Air mata keluarga YBR adalah air mata bangsa. Hukum, kebijakan, dan birokrasi seharusnya berdiri untuk melindungi mereka yang paling rentan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: anak kecil kehilangan masa depan, sementara negara sibuk dengan angka dan prosedur.

Tragedi ini harus menjadi titik balik. Pemerintah tidak boleh lagi bersembunyi di balik retorika. Pendidikan benar-benar harus gratis, bantuan sosial harus tepat sasaran, dan birokrasi harus tunduk pada kemanusiaan. Jika tidak, maka tragedi serupa akan terus berulang, dan bangsa ini akan terus kehilangan anak-anak terbaiknya hanya karena kemiskinan yang tak pernah diurus dengan serius.

Sekali lagi, semoga tragedi ini membuka mata kita semua,  pendidikan sejatinya adalah hak dasar setiap anak, bukan beban yang merenggut masa depan mereka.  Selamat jalan, YBR.  Air mata kami adalah doa, semoga engkau beristirahat dengan tenang di pangkuan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *