Bung Andar, Penyeimbang Kubu Barat dan Timur!!!
Penulis: Pian.
Musda XI Partai Golkar Sumatera Utara bukan sekadar agenda rutin pergantian kepemimpinan karena ia menjadi arena uji kekuatan politik internal, sekaligus cermin arah masa depan Golkar Sumut.
Dua nama kader muda mencuat ke permukaan Andar (kelahiran 1982) dan Hendri Sitorus (kelahiran 1988). Namun, jika membaca peta kekuatan riil, jarum politik tampak lebih condong ke Andar.
Secara matematika politik, Andar disebut telah mengamankan hingga 30 dukungan suara dari total 39 pemilik hak pilih karena angka ini bukan sekadar melampaui syarat pencalonan minimal 30 persen atau 12 dukungan tertulis, tetapi juga berpotensi mengunci kemenangan sejak awal.
Dalam posisi ini, Andar tidak lagi sekadar kandidat, melainkan figur penyeimbang antara kubu Barat dan Timur yang selama ini kerap berhadap-hadapan di tubuh Golkar Sumut.
Sebaliknya, posisi Hendri Sitorus mulai dipertanyakan. Sebab pesona politik yang dulu digadang-gadang sebagai modal utama kini dinilai memudar karena tanpa dukungan tertulis yang cukup, maka ambisi politik berisiko berhenti sebagai riuh wacana publik, bukan kekuatan nyata di arena Musda.
Ketua Harian DPD Golkar Sumatera Utara, Yasir Ridho, menegaskan bahwa syarat pencalonan ketua Golkar Sumut sudah diatur secara jelas karena calon ketua wajib mengantongi dukungan minimal 30 persen atau sekitar 12 surat dukungan tertulis dari total 39 pemilik suara yang terdiri dari DPD Golkar kabupaten/kota, DPD Golkar Sumut, Badan Pertimbangan, organisasi sayap, organisasi pendiri, serta organisasi yang didirikan Golkar.
“Kalau mau jadi calon ketua Golkar, sederhana saja cari 12 dukungan suara. Kalau tidak memenuhi syarat, tidak bisa mencalonkan diri karena Golkar tidak menentukan arah lewat keramaian media sosial, tetapi lewat dukungan yang sah dan diverifikasi,” tegas Yasir.
Aturan ini menegaskan satu hal penting Golkar adalah partai struktur, bukan partai sensasi karena popularitas tanpa legitimasi organisasi hanyalah ilusi politik.
Dalam hal ini, Andar tampil sebagai figur yang membaca logika partai dengan tepat karena dukungan tidak diumbar ke publik, tetapi dikunci dari bawah melalui kerja konsolidasi yang rapi, disiplin, dan konsisten.
Sebaliknya, Hendri Sitorus menghadapi problem klasik politik elite karena terlalu percaya diri pada nama besar dan jaringan lama, namun lalai mengamankan dukungan struktural karena dalam mekanisme Musda, kegagalan mengamankan dukungan bukan sekadar kekalahan personal, melainkan kegagalan membaca logika kelembagaan partai.
Lebih jauh, Musda XI juga mencerminkan pertarungan ideologis antara dua model kepemimpinan yaitu model oligarkis yang bertumpu pada elite, patronase, dan personalisasi kekuasaan versus model struktural yang mengedepankan konsolidasi organisasi, prosedur, dan legitimasi kader.
Dalam perspektif ini, kemunculan Andar bukan hanya soal figur, melainkan respons atas kejenuhan kader bawah terhadap dominasi elite lama yang merasa partai sebagai warisan pribadi.
Sebab Golkar Sumut terlalu lama dikelola dengan logika feodal yaitu elite memerintah, dan kader mengikuti karena Musda XI membuka peluang koreksi atas pola tersebut.
Syarat dukungan 30 persen sejatinya adalah mekanisme penyaring demokrasi internal memaksa setiap calon turun ke bawah, berhadapan langsung dengan struktur, dan membuktikan kapasitas kepemimpinannya sebab di titik inilah banyak elite lama goyah, karena terbiasa diperjuangkan, bukan berjuang.
Musda XI akan menjadi pembuktian terakhir siapa yang benar-benar bekerja di bawah, dan siapa yang hanya besar di narasi karena dalam peta ini, Andar berada di posisi strategis bukan hanya unggul, tetapi berpotensi menutup pertandingan lebih cepat.
Pertanyaannya kini sederhana: Siapa yang memiliki dukungan nyata, bukan sekadar cerita?
Sebab Golkar Sumut tidak membutuhkan penjaga masa lalu, melainkan pemimpin masa depan karena partai besar tidak dibangun oleh elite yang merasa paling berjasa, tetapi oleh kader yang paling siap bekerja.












