Bencana Datang dan Pergi, Tapi Mengapa Luka Sosial Aceh Tak Pernah Benar-Benar Sembuh?
Oleh: Nasrul Sufi
Aceh adalah wilayah yang terbiasa dengan bencana. Banjir, longsor, gempa, dan konflik sosial datang silih berganti, seolah menjadi bagian dari siklus hidup masyarakat. Namun yang patut dipertanyakan bukan hanya seberapa sering bencana terjadi, melainkan mengapa luka sosial yang ditinggalkannya seakan tak pernah benar-benar sembuh?
Dalam kajian kebencanaan, pemulihan ideal tidak berhenti pada fase emergency response, tetapi berlanjut pada recovery dan rehabilitation yang utuh. Sayangnya, yang sering terjadi di Aceh adalah pemulihan setengah jalan. Rumah dibangun kembali, jalan diperbaiki, tetapi rasa aman, kepercayaan sosial, dan kesehatan mental masyarakat dibiarkan pulih dengan sendirinya.
Bencana tidak hanya merusak ruang fisik, tetapi juga memutus jaringan sosial (social networks) dan meninggalkan trauma psikososial yang mendalam. Anak-anak kehilangan rasa aman, orang tua kehilangan ketenangan, dan komunitas kehilangan stabilitas.
Namun luka-luka ini sering dianggap tidak kasat mata, sehingga tidak diperlakukan sebagai prioritas kebijakan.
Masalah utamanya terletak pada pendekatan pembangunan yang terlalu teknokratis. Pemulihan pascabencana masih dipahami sebagai proyek infrastruktur, bukan sebagai proses rekonstruksi sosial (social reconstruction). Akibatnya, masyarakat dipaksa “tampak pulih” secara fisik, sementara secara psikologis mereka masih berada dalam fase krisis. Inilah yang disebut unfinished recovery pemulihan yang tidak pernah selesai.
Prinsip Do No Harm, yang seharusnya menjadi dasar setiap intervensi kemanusiaan, kerap terabaikan. Bantuan datang tanpa analisis kerentanan, tanpa sensitivitas budaya, dan tanpa partisipasi bermakna masyarakat. Alih-alih menyembuhkan, sebagian intervensi justru menimbulkan kecemburuan sosial, konflik laten, dan keletihan kolektif (collective fatigue).(LA).












