Amadanews.com – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah mengalami tekanan dan tercatat sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Berdasarkan pantauan pada Kamis (4/6/2026), kurs rupiah berada di level Rp18.038 per dolar AS, setelah sempat menyentuh Rp18.044 per dolar AS, yang merupakan titik terendah sepanjang sejarah.
Kajian terbaru Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) yang dipublikasikan Rabu (3/6/2026) menunjukkan pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan dan perdagangan internasional, tetapi juga merembet ke biaya energi, pangan, pakan ternak, hingga kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Dalam laporan bertajuk Ambisi Pertumbuhan Ekonomi dan Gejolak Rupiah Saat Ini, INDEF mencatat Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Kebijakan ini ditempuh sebagai langkah menahan tekanan terhadap rupiah di tengah tantangan stabilitas makroekonomi yang dinilai lebih besar dibanding sejumlah negara berkembang lainnya. (Red/kompas.com).












