Amadanews.com – Gagasan penyelenggaraan Musyawarah Besar (Mubes) Tungku Tigo Sajarangan (TTS) mulai menguat di kalangan tokoh Minangkabau sebagai upaya menghadirkan ruang musyawarah bersama untuk membahas berbagai persoalan dan arah masa depan Ranah Minang.
Inisiatif tersebut disampaikan oleh Ketua ABS-SBK BP2DIM, Zulkifli Datuak Rajo Mangkuto. Menurutnya, wacana pelaksanaan Mubes TTS terus didorong dan usulan tersebut telah disampaikan kepada Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah.
Saat ini, pembahasan Mubes TTS mulai memasuki tahap awal. Sejumlah tokoh dan elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap adat, syarak, serta masa depan Minangkabau mulai menjalin komunikasi dan bertukar gagasan sebagai bagian dari proses persiapan.
Mubes TTS diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan menjadi forum musyawarah yang mampu mempertemukan berbagai unsur masyarakat Minangkabau guna membahas persoalan strategis, memperkuat konsolidasi, serta merumuskan gagasan pembangunan sosial dan budaya Minangkabau ke depan.
Dalam filosofi Minangkabau, Tungku Tigo Sajarangan merupakan simbol sinergi tiga unsur kepemimpinan masyarakat, yakni ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai. Ketiga unsur tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan adat dan sosial masyarakat yang berlandaskan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Sementara, Sekretaris Jenderal BP2DIM, Anton Pratama, S.E menyatakan dukungannya terhadap rencana pelaksanaan Mubes Tungku Tigo Sajarangan tersebut.
Menurutnya, apabila dapat direalisasikan, Mubes TTS akan menjadi momentum penting untuk mempertemukan berbagai pemikiran dan pandangan dari unsur-unsur Minangkabau dalam satu forum besar.
“ Kami sangat mendukung diadakannya acara gadang ini. Gagasan ini perlu dibicarakan secara matang dengan melibatkan berbagai unsur Tungku Tigo Sajarangan serta tokoh-tokoh Minangkabau agar menghasilkan pemikiran yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Anton menambahkan, proses menuju pelaksanaan Mubes membutuhkan komunikasi, koordinasi, dan persiapan yang matang agar forum tersebut mampu melahirkan rekomendasi serta kesepakatan yang konstruktif bagi kemajuan Minangkabau.
Para penggagas berharap Mubes Tungku Tigo Sajarangan dapat diselenggarakan pada 2026 setelah seluruh tahapan persiapan, komunikasi lintas unsur, serta pembahasan teknis dapat diselesaikan.
Gagasan yang berawal dari Luak Nan Tigo itu diharapkan berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas dengan melibatkan seluruh elemen Minangkabau, baik yang berada di ranah maupun di rantau.
Di tengah berbagai dinamika sosial, budaya, dan tantangan yang dihadapi masyarakat Minangkabau saat ini, kehadiran forum musyawarah bersama dinilai penting untuk memperkuat peran Tungku Tigo Sajarangan sebagai pilar kehidupan masyarakat.
Melalui Mubes TTS, berbagai unsur diharapkan dapat melakukan basilang pikiran, bertukar pandangan, serta mencari titik temu demi kepentingan dan kemajuan Minangkabau.
Sebagaimana falsafah Minangkabau yang kerap dijadikan pedoman dalam bermusyawarah, “Basilang kayu dalam tungku, di sinan api mangko hiduik,” yang bermakna perbedaan pandangan dapat menjadi sumber kekuatan untuk melahirkan keputusan terbaik bagi kepentingan bersama.
Terkait dengan waktu dan tempat dilaksanakan Mubes Tungku Tigo Sajarangan bersejarah tersebut disampaikan panitia yang akan dibentuk.*(ef)*












