KH Ma’ruf Amin: Pilih Pemimpin NU Harus Sesuai Hati Nurani, Bukan Pesanan

Amadanews.com — Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menegaskan mekanisme pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar NU tidak boleh didasarkan pada pesanan atau kepentingan pihak tertentu. Menurutnya, pemilihan harus berjalan sesuai hati nurani dan tuntunan para ulama.

“Mekanisme AHWA itu dipilih oleh cabang (PCNU) dan wilayah (PWNU) dengan memilih orang yang terbaik dari yang ada. Bukan kemauan pihak tertentu, pesanan. Itu bukan AHWA,” ujar KH Ma’ruf usai berziarah ke makam pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah, di Tambakberas, Jombang, Rabu (26/8/2026) malam.

Ia menyebut sejumlah kriteria yang harus dimiliki anggota AHWA, di antaranya kapasitas keilmuan dan pengetahuan agama yang memadai, sikap warak, serta tidak mudah dipengaruhi hal-hal yang tidak baik. “Syarat menjadi AHWA, seorang ulama yang memiliki pengetahuan, kapasitas keilmuan yang cukup, warak, dan tidak dipengaruhi hal-hal yang tidak baik,” tuturnya.

KH Ma’ruf menekankan bahwa pemilihan harus mengedepankan sosok yang paling memenuhi kriteria di antara kandidat yang tersedia. “Memilih sesuai dengan kriteria, artinya memilih yang paling afdhol daripada yang ada,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, KH Ma’ruf juga mengingatkan agar tidak terjadi praktik politik uang (money politic) dalam pemilihan pemimpin NU. “Ya kita harapkan itu tidak ada, jangan ada. Karena tidak layak kalau NU. Kalau partai mungkin pantaslah, tapi kalau NU iya enggak pantaslah,” tegasnya.

Ia berharap seluruh rangkaian Muktamar ke-35 NU yang digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas berjalan baik dan menghasilkan pemimpin sesuai harapan warga NU. “Harapannya Muktamar ini berjalan dengan baik, tidak ada apa-apa, menghasilkan pemimpin yang memang diharapkan. Dan juga tidak ada yang berjalan dengan tidak terpuji, semuanya memilih sesuai hati nurani dan tuntunan ulama,” tandasnya.

Muktamar ke-35 NU akan dibuka oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Forum tertinggi NU ini tidak hanya memilih Ketua Umum PBNU dan Rais Aam, tetapi juga membahas berbagai persoalan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat. (Red/NU Online)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *